Shabaab Sunnah

Maret 18, 2010

TOKOH TERTENTU BUKANLAH TIMBANGAN KEBENARAN

Filed under: Manhaj — ibnuyacob @ 1:45 am
Tags: , , , , , , , , , , ,

Oleh : Asy-syaikh Sholih bin Sa’ad As-suhaimy**

Sesungguhnya kebenaran tidak diukur dengan seorang tokoh (manusia), akan tetapi manusialah yang di timbang dengan kebenaran, sungguh kita telah diberi cobaan dengan sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dan melampaui batas dalam mensucikan manusia (tokoh-tokoh tertentu), padahal kebanyakan orang-orang yang disucikan tersebut sebenarnya tidak berhak untuk mendapatkannya. Pensucian semacam ini adalah model pengkultusan yang dikenal pada Ahlu-Bid’ah (para penggemar kebid’ahan), karena ilmu pada mereka tidak diambil dari tempat dan ahlinya akan tetapi menurut mereka ilmu itu diambil dari tokoh-tokoh mereka walaupun tokoh mereka itu jelas-jelas menyelisihi kebenaran. Oleh karena itu kita sering mendapati mereka mengambil perkataan si fulan dan si fulan dan menerima begitu saja sekalipun menyelisihi petunjuk Al-kitab (Alquran) dan As-sunnah secara terang-terangan.
Memang, kita wajib memuliakan para Ulama, menghormati mereka serta memberikan hak-hak mereka, mengenal keutamaan-keutamaan mereka, mendoakan mereka dengan kebaikan, mencintai mereka dan kita bersungguh-sungguh untuk mengambil ilmu dari mereka, akan tetapi kita tidak boleh bersikap berlebihan pada seorangpun, karena sungguh kita telah mendapatkan musibah semenjak penyelewengan orang-orang dari manhaj yang benar pada qurun (masa) pertama (masa Sahabat Nabi) ketika telah tampak kelompok-kelompok sempalan dan jama’ah-jama’ah yang berbeda-beda, sejak kelompok Khawarij memberontak kepada Khalifah Utsman -semoga Allah meridhoinya- smapai masa sekarang ini kita diuji dengan dengan kelompok-kelompok tersebut pada setiap masa dan tempat, Agama menurut mereka adalah mensucikan para tokoh. Pendapat yang diambil hanyalah pendapat yang keluar dari mulut-mulut tokoh mereka walaupun menyelisihi Agama baik secara global maupun terperinci.
Oleh karena itu kita sering mendapati mereka ketika diterangkan kepadanya kesalahan dan ketergelinciran yang ada pada buku karangan mereka -yang kadang kesalahan itu berupa bid’ah yang mungkar atau Ilhad (penyelewengan agama) kadang pula berupa jalan menuju kekufuran- ketika kita menjelaskan kesalahan ini serta merta mereka bangkit menentangmu, akan tetapi jika kamu mengatakan sahabat si fulan telah salah dan seorang ulama fulan dari telah salah dalam maslah ini dan kamu menerangkan bahwa yang benar adalah begini dan begini bahkan bila seorang Sahabat Nabi dicela ataupun seorang dari tokoh yang mereka  agungkan mencela seorang Sahabat dari sahabat-sahabat Rasulillah – صلى الله عليه وسلم – maka mereka tidak bergerak sedikitpun untuk menentangnya, bahkan masalah ini sepele dihadapan mereka, tapi jika kamu mengatakan : penulis fulan telah tersalah dalam tulisannya demikian dan demikian sungguh kiamat akan datang kepadamu!, kamu akan mendapati mereka menyerangmu dari busur yang satu (bersatu untuk menyerangmu)!
sampaipun kamu mengatakan : sesungguhnya orang ini telah mengatakan (mencela) Sahabat Nabi begini dan begitu.
orang ini berkata tentang Utsman begini..
tentang Muawiyah begini…
umar begini dan begitu..
dan seterusnya…
ketika kamu mengkritik perkataan mereka justru yang terjadi adalah kamu menjadi bahan perdebatan mereka jadilah kamu bahan kritik mereka, bahkan kadang kamu akan disakiti oleh sebab itu.
Akan tetapi kebenaran adalah sebagaimana kaidah salaf yang mengatakan [ أن الحق لا يعرف بالرجال وإنما الرجال هم الذين يعرفون بالحق ] Sesungguhnya kebenaran itu tidak diukur dari orang tertentu tapi orang itulah yang diukur dan ditimbang dengan kebenaran, (dalam artian kebenaran adalah Imam bagi manusia bukan justru manusia yang menjadi imam bagi kebenaran, pent.)
maksud dari kaidah tersebut adalah bahwa kita harus menjauhi sikap berlebihan kepada seseorang, karena sikap berlebihan ini menjadi awal penyebab runtuhnya Agama dari sejak masa kaum Nabi Nuh sampai hari dimana kita hidup saat ini.
oleh karena itu sikap berlebihan ini adalah sikap yang sangat berbahaya sekali.

Catatan : * Beliau adalah mantan ketua kuliah Aqidah di Univesitas Islam Madinah, sekarang menjadi pengajar di Masjid Nabawi.

Alih bahasa : Abu Muhammad Al-acehy.
Sumber : http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=891

2 Komentar »

  1. Assalamu’alaikum,

    barakallahu fiik…

    Komentar oleh Admin inilah fakta — April 4, 2010 @ 12:03 am

  2. Masya Alloh.. nasihat yang bagus. Ditunggu tulisan2 berikutnya, akh.

    Komentar oleh ibnu ishaq — April 11, 2010 @ 3:39 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: