Shabaab Sunnah

Juli 22, 2009

JANGAN SUKA BUANG BOM DI SEMBARANG TEMPAT

Diarsipkan di bawah: Manhaj — ibnuyacob @ 8:01 am

Berkaitan dengan aksi “Buang Bom Sembarangan” yang dilakukan oleh kaum teroris di Jakarta (17/7), berikut ini kami sampaikan artikel yang semoga bermanfaat sekaligus menjadi nasihat khususnya bagi para pemuda yang menjadi korban pemikiran sesat teroris-khawarij. Artikel tersebut kami nukilkan dari www.almakassari.com.

:::::

Pembaca yang budiman -semoga dirahmati Allah-,
Mungkin kita sama-sama telah membaca Harian Fajar tanggal 3 Maret 2007 halaman 11, yang memuat tentang pernyataan resmi dari Polda Makassar, bahwa ada enam kelompok yang disinyalir sebagai kelompok teroris. Berita tersebut mengingatkan kita peristiwa enam tahun silam, yaitu peledakan Mall Ratu Indah, Makassar. Ini disebabkan karena ada segelintir pemuda kaum muslimin yang “buang bom sembarang tempat!!!” Seharusnya bom itu dibuang dan diledakkan di medan jihad, justru dibuang dan diledakkan di negeri kaum muslimin sendiri. Mereka terlalu bersemangat dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, namun tidak dilandasi oleh ilmu, sehingga justru lebih banyak kerusakan yang ditimbulkan daripada manfaat. Oleh karena itu, pada edisi kali ini kami akan memaparkan beberapa kerusakan yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut.

  • Membunuh Diri

Dalam rangka “jihad” memerangi Amerika dan sekutunya, sekian banyak aksi peledakan dan bom bunuh diri terjadi di negeri-negeri kaun muslimin yang dilakoni oleh sebagian pemuda yang tak berbasis ilmu yang kuat. Akibatnya, korban berjatuhan dari kalangan warga sipil muslim sendiri. Padahal Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah melarang seorang muslim membunuh dirinya sendiri di dalam firman-Nya:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sungguh Allah maha penyayang kepadamu”. (QS. An-Nisa`: 29)

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah memperingatkan:

من قتل نفسه بحديدة فحديدته في يده يتوجأ بها في بطنه في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا ومن شرب سما فقتل نفسه فهو يتحساه في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا ومن تردى من جبل فقتل نفسه فهو يتردى في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا

“Barang siapa yang membunuh dirinya dengan sepotong besi, maka besinya itu akan berada ditangannya. Dia akan menikam perutnya dengan pisau itu didalam neraka dalam keadaan kekal didalamnya selama-lamanya. Barang siapa yang menenggak racun, lalu ia membunuh dirinya dengan racun itu, maka ia akan meminumnya sedikit-demi sedikit dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal di dalamnya selama-lamanya. Barang siapa yang menghempaskan dirinya dari gunung sehingga dia membunuh dirinya, maka dia akan terhempas dalam neraka dalam keadaan kekal di dalamnya selama-selamanya.” [Muslim dalam Shohih-nya (109)]

Ini adalah perbuatan yang konyol -bukan jihad-. Perbuatan ini tidaklah mendatangkan kemaslahatan bagi Islam, karena bila seandainya dia membunuh dirinya dan membunuh 10 orang atau 100 orang atau 200 orang, maka hal tersebut tidak akan bermanfaat bagi Islam dan tidak membuat manusia ber-Islam. Malah membuat orang lari dari Islam. Karena itulah, perbuatan ini tidak dapat dibenarkan, dan menyebabkan pelakunya diazab di neraka, dan orang yang bunuh diri dengan cara yang seperti ini bukanlah mati syahid. Jika seorang mau berdakwah dan mengajak orang-orang kafir masuk ke dalam Islam, maka dakwahilah mereka dengan cara hikmah, bukan dengan cara emosi dan membabi buta yang mencoreng citra Islam dan kaum muslimin.

  • Membunuh Seorang Muslim

Jika kita memperhatikan orang-orang yang menjadi korban pemboman, maka kebanyakannya adalah kaum muslimin sendiri. Duhai, sungguh celakanya orang yang membom ini…! Karena Allah telah mengancamnnya di dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (QS. An-Nisa`: 93)

Lihatlah pembaca yang budiman! Allah mengancamnya di dalam ayat ini dengan neraka jahannam dan tidak sampai disitu saja, bahkan ia kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, mengutuknya dan menyediakan siksa yang pedih baginya. Ini baru satu orang muslim, bagaimana lagi jika yang dibunuhnya adalah puluhan sampai ratusan orang muslim? -Nas alulllaha ‘afiyah wassalamah-

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَزَوَالُ لدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Sungguh hancurnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada membunuh (jiwa) seorang muslim”. [HR. At-Tirmizy dalam As-Sunan (1399), An-Nasa’iy dalam As-Sunan (7/82), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (2393), dan lain-lain. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ghoyatul Maram (4390)]

Mereka berteriak ketika kaum kuffar AS dan sekutunya membantai jutaan kaum muslimin dengan mengatakan bahwa nyawa seorang muslim itu sangat mahal di sisi Allah. Namun di sisi lain mereka sendiri ternyata juga turut menumpahkan darah kaum muslimin. parahnya lagi kesalahan tersebut berusaha ditutupi dan dibenarkan dengan berjuta dalih: “Ini kan jihad”, “Mereka adalah Mujahid”, “Mereka adalah penghuni surga”, dan “Mereka mati syahid”. Padahal orang-orang yang melakukan aksi teror tersebut adalah orang-orang yang mati konyol, diancam oleh Allah dengan neraka Jahannam. Bagaimana mereka dianggap mati syahid ??!

  • Membunuh Kafir Musta’man

Pembaca budiman, ketahuilah bahwa tidak semua orang kafir boleh dibunuh di dalam syariat agama kita, karena sesungguhya orang kafir itu ada empat:macam, yaitu:

    • kafir dzimmy

Mereka adalah orang kafir (penduduk asli) yang membayar jizyah (upeti) yang dipunguti tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. kafir, seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih menaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka. Banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut diantaranya adalah hadist Al-Mughirah bin syu’bah -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata,

“Kami diperintah oleh rasul robb kami -Shollallahu ‘alaihi wasallam- untuk memerangi kalian sampai kalian menyembah Allah satu-satunya atau kalian membayat jizyah ”.[HR.Al-Bukhary dalam Ash-Shohih (3158)]

    • kafir mu’ahad ,

Mereka adalah orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati. Orang kafir seperti ini juga tidak boleh dibunuh, sepanjang mereka menjalankan kesepakatan yang telah dibuat. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

من قتل معاهدا لم يرح رائحة الجنة وإن ريحها توجد من مسيرة أربعين عاما

Siapa yang mebunuh kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium bau surga, dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan 40 tahun . [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (3166), An-Nasa’iy dalam As-Sunan (8/25), dan Ibnu Majah (2686)]

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Ingatlah, siapa yang menzholimi seorang kafir mu’ahad, merendahkannya, membebani diatas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya, tanpa keridoan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat [HR Abu Daud dalam As-Sunan (3052) dan Al Baihaqy (9/205). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (445)]

    • kafir musta’man

Mereka adalah orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini juga tidak boleh dibunuh, sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan. Dalilnya, firman Allah -Ta’ala-,

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, Kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak Mengetahui.””. (QS. At-Taubah: 6)

d. kafir harby

Mereka adalah kafir selain yang tiga di atas. kafir jenis inilah yang disyariatkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat Islam. Mengapa harus diperangi? Karena mereka memerangi Islam.Demikianlah ketentuan syariat Allah.

Namun orang kafir harbiy yang masuk ke negeri kaum muslimin dengan jaminan keamanan dari pemerintah muslim berubah statusnya menjadi kafir musta’man, haram untuk diperangi selama dalam perlindungan. Mereka (para pembom) ini tidak peduli lagi dengan syariat Allah dalam hal ini. Padahal pada saat yang sama, mereka selalu meneriakkan, “Ayo tegakkan syari’at Islam”. Namun untuk kali ini, mereka injak-injak sendiri slogan-slogan tersebut. Akibatnya, semua orang kafir sah dan halal darah dan hartanya; perang dan pembunuhan terhadap mereka boleh dilakukan kapan dan di mana saja!! Wahai Pembaca yang budiman, tentunya ini merupakan sikap serampangan yang menyelisihi Al-Kitab, Sunnah, dan tuntunan para ulama’.

  • Menzholimi Orang Lain

Allah -‘Azza wa Jalla-, Pencipta kita telah mengharamkan perbuatan zholim atas diri-Nya dan hamba-hamba-Nya sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Qudsiy, Allah berfirman,

يَا عِبَادِيْ إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بيَنْكَمُْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا

“Wahai segenap hamba-hamba-Ku, sesungguhnya aku telah mengharamkan perbuatan zholim atas diri-Ku dan Aku telah menjadikan hal tersebut sebagai perkara yang haram antara sesama kalian, maka janganlah kalian saling menzholimi”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2577) dari Abu Dzar -radhiyallahu ‘anhu-)

Dalam berbagai nas, baik Al-Qur’an, maupun sunnah, telah diterangkan bahwa perbuatan zhalim tidak pernah membawa kebaikan bagi pelakunya di dunia maupun di akhirat. Allah -Subhanahu wa Ta'ala- menyatakan dalam berbagai ayat tentang bahaya perbuatan zholim. Diantaranya, Allah -Subhanahu wa Ta'ala- berfirman,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zholim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. dan adalah setan ti tidak mau menolong manusia.”. (QS. Al-Furqan: 27 - 29 )

وَكَمْ قَصَمْنَا مِنْ قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَأَنْشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا آَخَرِينَ

“Dan berapa banyak penduduk negeri yang zholim yang telah kami binasakan, dan kami adakan setelah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya)”. (Al-Anbiya`: 11)

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- juga mengingatkan:

اِتَّقُوْا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Takutlah terhadap perbuatan zholim, sebab kezholiman adalah kegelapan di atas kegelapan pada hari kiamat” [HR. Al-Bukhary dalam Shohihb-nya(2447), Muslim dalam Shohih-nya (2579), dan At-Tirmidzy dalam As-Sunan (2035) dari sahabat Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhu-]

Inilah beberapa kerusakan dan pelanggaran yang ditimbulkan oleh “aksi buang bom sembarang tempat!!!” Sebenarntyamasih banyak lagi kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan ini yang belum sempat kami paparkan seperti mencoreng citra Islam, membuat kaum muslimin jadi takut, mengadakan kerusakan di muka bumi, menjadikan orang-orang yang komitmen terhadap agamanya sebagai bahan cercaan dan celaan, merusak harta benda yang terjaga dan dilindungi dalam syariat, dan masih banyak lagi.

Wahai saudaraku, wahai para Pengangkat bendera “jihad”, pernahkah engkau bertanya pada dirimu, “Apakah termasuk jihad, menumpahkan darah kaum muslimin??! Apakah termasuk jihad, menghalalkan darah orang-orang yang haram untuk dibunuh dan? Apakah merupakan jihad menghancurkan harta benda kaum muslimin? Apakah engkau telah berjihad membenahi dirimu dalam mempelajari ilmu dan mengamalkannya? Sudahkah engkau berjihad mengikuti Al-Qur’an dan sunnah? Apakah engkau telah mengikuti Al-Qur’an dan sunnah, walaupun menyelisihi hawa nafsumu. ketahuilah saudaraku, jihad di jalan Allah bukanlah untuk pelampiasan dan pemuas hawa nafsu, namun dia adalah ibadah yang sangat agung dan salah satu simbol agama yang suci. Ingatlah, memperbaiki masyarakat adalah tanggung jawab bersama, sebarkan ilmu syari’at Islam di tengah ummat, tegakkan hukum Allah, dan jauhilah segala sebab kerusakan dan kehancuran”.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 11 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp. 200,-/exp). http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/%E2%80%9Cjangan-buang-bom-sembarang-tempat%E2%80%9D.html

April 27, 2009

Metode Salaf Dalam Menuntut Ilmu

Diarsipkan di bawah: Manhaj — ibnuyacob @ 8:30 am
Tags: , , , , , , , , ,

Setiap kita sebagai seorang muslim dituntut untuk senantiasa mempelajari agama ini. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya:

“Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Maksud dari kata-kata (العلم) ”Ilmu” yang terdapat di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah bukanlah ilmu-ilmu yang bersifat keduniawian, melainkan ilmu agama. Sebagaimana yang dikatakan oleh imam Ibnu Hajar Al-Asqalani :

“Dan yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i” (lihat Fathul Baari I : 170).

Sedangkan ilmu-ilmu lain selain ilmu syar’i merupakan ilmu alat yang dianjurkan bagi seorang muslim untuk mempelajarinya. Bahkan hukum mempelajarinya menjadi wajib apabila keahlian tersebut tidak ada yang menekuninya.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu pernah mengatakan bahwa kebenaran tanpa disertai oleh sistem dan strategi yang rapih akan dikalahkan oleh kebatilan yang dilakukan dengan menggunakan strategi yang sistematis. Demikian pula dalam proses belajar, tentunya memerlukan strategi dan metode yang baik. Karena sebesar apa pun tenaga yang kita curahkan dan berapa pun materi yang telah kita belanjakan, jika tidak dibarengi dengan metode yang bagus, maka tujuan yang diharapkan sulit untuk tercapai.

Dan di antara strategi dalam belajar tersebut adalah:

1. Niat yang Ikhlas hanya kepada Allah

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus …” (Q.S. Al Bayyinah: 5)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya amalan-amalan itu dengan niat (tergantung pada niat) dan sesungguhnya seseorang diberikan ganjaran sesuai dengan niatnya ….” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Oleh sebab itu tidaklah pantas bagi seorang penuntut ilmu syar’i, melalui ilmu yang ia miliki, ia mengharapkan kedudukan, martabat dimasyarakat, ataupun untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya: “Barang siapa yang menuntut ilmu agama, yang mana hal tersebut (seharusnya) dituntut hanya untuk mengharapkan wajah Allah, namun ia melakukannya hanya untuk tujuan keduniaan belaka, maka di hari kiamat kelak ia tidak akan dapat mencium wangi syurga” (H.R. Ibnu Majah, Ahmad, dan Abu Daud)

Imam Al-Khatib Al-Bagdadi berkata: “Wajib bagi setiap penuntut ilmu agama untuk mengikhlaskan niatnya dalam menuntut ilmu, dan menjadikan tujuannya tersebut hanya mengharapkan wajah Allah.”

2. Mengikuti Sunnah dan Mengamalkannya

Allah Shubhaanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Apa yang diberikan oleh rasul, terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Q.S. Al-Hasyr : 7).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya:

“Saya telah meninggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian memegang teguh kedua perkara tersebut (yaitu) Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya” (H.R. Malik).

3. Bertahap dalam Menuntut Ilmu

Kebanyakan dari para ulama salaf memulai pelajaran mereka dengan belajar adab. Dan sementara mereka mempelajari adab, mereka menghafal Al Qur’an, baru kemudian dilanjutkan dengan mempelajari bidang-bidang ilmu lainnya.

Abdullah bin Mubarak berkata: “Saya mempelajari adab selama 30 tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama 20 tahun, dan mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu.”

Dan kebanyakan dari para ulama salaf telah mengajarkan adab kepada anak-anak mereka sejak kecil. Dan mengajarkan mereka untuk menghafal Al-Quran, tulis menulis, dan berakhlaq yang mulia. Apabila mereka telah di anggap beradab, barulah mereka diikutkan dalam majelis-majelis ilmu, berkata Sufyan bin Said Ats- Tsaury: “Tidaklah mereka (para ulama salaf) mengirim anak-anak mereka untuk menuntut ilmu (agama) kecuali mereka telah beradab dan beribadah selama 20 tahun”.

4. Bersemangat dalam Menuntut Ilmu

Telah banyak riwayat yang menceritakan semangat para salafus shaleh dalam menuntut ilmu dan bagaimana mereka menjaga semangat tersebut agar tidak luntur. Bahkan terkadang mereka berlari-lari untuk menghadiri majelis-majelis ilmu tersebut, seperti yang dikatakan oleh Syu’bah bin Hajjaj:

“Tidaklah saya melihat seorang pun yang berlari, kecuali saya katakan, kalaulah ia bukan orang gila, (maka) dia adalah seorang penuntut ilmu”.

Akan tetapi hal yang terpenting yang harus diperhatikan oleh setiap penuntut ilmu agama adalah hendaknya ia mengambil ilmu agama tersebut dari orang yang benar-benar mengetahui tentang ilmu agama tersebut, bukan dari orang yang lemah hafalannya. Berkata Imam Muhammad bin Siriin: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambil agamamu tersebut”, diriwayat lainnya beliau katakan: “Dulunya mereka (para ulama salaf) tidak bertanya tentang isnad (orang yang meriwayatkan hadits) namun setelah terjadi fitnah, maka mereka mulai bertanya: “Dari siapa kamu mendengarkan hadits tersebut ?”

(H.R. Muslim).

HAL-HAL PENGOKOH ILMU

1. Pemahaman yang Baik

Al-Khatib Al-Bagdadi berkata: “Ilmu adalah pemahaman dan pengetahuan, bukanlah banyak dan luasnya pengetahuan tentang riwayat”.

Ibnu Abdil Barr berkata: ”Dan yang menjadi kesepakatan fuqahaa’ (ahli-ahli fiqh) dan para ulama adalah membenci memperbanyak riwayat tanpa adanya pemahaman dan ketelitian”.

2. Menghafal dan Mengamalkannya

Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal berkata: ”Tidaklah sampai satu hadits pun kepadaku kecuali saya telah beramal dengannya. Dan tidaklah saya beramal dengannya kecuali saya telah menghafalnya”.

Waki’ bin Jarrah berkata: ”Apabila kalian ingin menghafal hadits, maka beramallah dengannya”.

3. Mengulang-ulangi Hafalan bersama dengan Guru atau Teman

Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhuma berkata: ”Dulu ketika kami berada di dekat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kami mendengarkan hadits-hadits dari beliau. Apabila kami berdiri (telah bubar dari majelis bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam) kami mengulang-ulang hafalan hadits tersebut sesama kami, sampai kami menghafalnya”.

Imam Al-Khatib Al-Bagdadi berkata: “Sebaik-baik mudzakarah (mengulang-ulang pelajaran) adalah di waktu malam. Ada sekelompok orang salaf memulai mudzakarah mereka dari Isya dan bisa jadi mereka tidak berdiri hingga mereka mendengarkan adzan shubuh”.

4. Bersabar dalam Menuntut Ilmu Agama

Telah banyak riwayat yang menjelaskan bagaimana para ulama salaf bersabar dalam menuntut ilmu. Bahkan terkadang mereka harus menempuh perjalanan satu bulan untuk mendapatkan satu hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Oleh sebab itu para ulama salaf telah mewasiatkan kepada murid-muridnya untuk senantiasa bersabar dan menghindari sifat tergesa-gesa dalam menuntut ilmu. Berkata Imam Az Zuhri: ”Barangsiapa yang menuntut ilmu dalam jumlah banyak maka ilmu itu akan hilang dalam jumlah banyak pula. Akan tetapi hendaknya ia mengambil ilmu tersebut (sedikit demi sedikit) satu hadits kemudian dua hadits”.

Adapun salah satu wasilah atau perantara untuk mendapatkan ilmu tersebut adalah penguasaan bahasa Arab, karena bahasa ini ibarat gerbang masuk untuk memahami wahyu-wahyu Allah dan hadits rasul-Nya. Umar bin Khattab pernah memerintahkan kepada seluruh kaum muslimin yang berada di daerah kekuasaannya untuk mempelajari ilmu hadits, faraidh (warisan) dan Nahwu (bahasa arab) sebagaimana mereka mempelajari Al-Qur’an.

Imam As Sya’bi berkata: ”Kedudukan nahwu dalam ilmu seperti fungsi garam dalam makanan.”

Abu Ubaidah

Taken from : www.arraayah.com


November 1, 2008

PENGERTIAN WAHABI DAN SIAPA MUHAMMAD BIN ADBUL WAHHAB

Diarsipkan di bawah: Manhaj — ibnuyacob @ 12:44 pm

Oleh
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Orang-orang biasa menuduh “wahabi ” kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid’ah mereka, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu rusak, bertentangan dengan Al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits shahih. Mereka menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdo’a (memohon) hanya kepada Allah semata.

Suatu kali, di depan seorang syaikh penulis membacakan hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab Al-Arba’in An-Nawa-wiyah. Hadits itu berbunyi.

“Artinya : Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepa-da Allah.” [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih]

Penulis sungguh kagum terhadap keterangan Imam An-Nawawi ketika beliau mengatakan, “Kemudian jika kebutuhan yang dimintanya -menurut tradisi- di luar batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan dari sakit dan kesehatan maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat tercela.”

Lalu kepada syaikh tersebut penulis katakan, “Hadits ini berikut keterangannya menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah.” Ia lalu menyergah, “Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan!”

Penulis lalu bertanya, “Apa dalil anda?” Syaikh itu ternyata marah sambil berkata dengan suara tinggi, “Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa’d![1]” dan Aku bertanya padanya, “Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa’d dapat memberi manfaat kepadamu?” Ia menjawab, “Aku berdo’a (meminta) kepadanya, sehingga ia menyampaikannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkanku.”

Lalu penulis berkata, “Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan, engkau justru mengambil akidah dari bibimu yang bodoh itu.”

Ia lalu berkata, “Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi.”

Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahabi kecuali sekedar penulis dengar dari para syaikh. Mereka berkata tentang wahabi, “Orang-orang wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada para wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya.”

Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahabi lebih jauh.”

Kemudian penulis tanyakan jama’ahnya, sehingga penulis mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadits dan fiqih.

Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi majelis mereka. Kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, beliau lalu duduk di kursi dan tak seorang pun berdiri untuknya. Penulis berkata dalam hati, “Ini adalah seorang syaikh yang tawadhu’ (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati).”

Lalu syaikh membuka pelajaran dengan ucapan,

“Artinya : Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan.”, dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa membuka khutbah dan pelajarannya.

Kemudian Syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahihnya dan para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau menjawab soal-soal itu dengan dalil dari Al-Qur’anul Karim dan sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam . Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap penanya. Di akhir pelajaran, beliau berkata, “Segala puji bagi Allah bahwa kita termasuk orang-orang Islam dan salaf.[2]. Sebagian orang menuduh kita orang-orang wahabi. Ini termasuk tanaabuzun bil alqaab (memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk). Allah melarang kita dari hal itu dengan firmanNya,

“Artinya : Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” [Al-Hujurat: 11]

Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi’i dengan rafidhah. Beliau lalu membantah mereka dengan mengatakan, “Jika rafidah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah.”

Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahabi, dengan ucapan salah seorang penyair, “Jika pengikut Ahmad adalah wahabi. Maka aku berikrar bahwa sesungguhnya aku wahabi.”

Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, “Inilah syaikh yang sesungguhnya!”

PENGERTIAN WAHABI
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab, Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik (Asmaa’ul Husnaa).

Jika shufi menisbatkan namanya kepada jama’ah yang memakai shuf (kain wol) maka sesungguhnya wahabi menisbatkan diri mereka dengan Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Allah yang memberikan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Beliau dilahirkan di kota ‘Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Qur’an sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Perasaan beliau tersentak setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya Nejed dengan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, khurafat dan bid’ah. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.

Ia mendengar banyak wanita di negerinya bertawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, “Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini.”

Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah semata.

Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, serta berdo’a (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Qur’an dan sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Al-Qur’an menegaskan:

“Artinya : Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” [Yunus : 106]

Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:

“Artinya : Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.” [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo'a (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.

[1]. Penentangan Orang-Orang Batil Terhadapnya
Para ahli bid’ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:

“Artinya : Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” [Shaad : 5]

Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah Subhannahu wa Ta’ala menjaganya dan memberinya penolong, sehingga dakwah tauhid terbesar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.

Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mereka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima[3], padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahabi tidak mencintai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam serta tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.

Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab –rahimahullah- telah menulis kitab “Mukhtashar Siiratur Rasuul Shalallaahu alaihi wasalam “. Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.

Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Qur’an, hadits dan ucapan sahabat sebagai rujukannya.

Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.

[2]. Dalam Sebuah Hadits Disebutkan:

” Artinya : Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, ‘Dan di negeri Nejed.’ Rasulullah berkata, ‘Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Ibnu Hajar Al-’Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali Radhiyallahu anhuma dibunuh.

Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan seba-liknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.

[3]. Sebagian Ulama Yang Adil Sesungguhnya Menyebutkan
Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang “Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah”, di antara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin ‘Irfan.

Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama’ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi akidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.

Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah[4] agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid’ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdo’a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma’ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga.

[Disalin dari kitab Minhajul Firqah An-Najiyah Wat Thaifah Al-Manshurah, edisi Indonesia Jalan Golongan Yang Selamat, Penulis Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Penerjemah Ainul Haris Umar Arifin Thayib, Penerbit Darul Haq]
________
Foote Note
[1]. Dia memohon pertolongan kepada Syaikh Sa’d yang dikuburkan di dalam masjidnya.
[2]. Orang-orang Salaf adalah mereka yang mengikuti jalan para Salafus Shalih. Yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in
[3].Sebab yang terkenal dalam dunia Fiqih hanya ada empat madzhab, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
[4]. Kaum Murtaziqoh yaitu orang-orang bayaran.

Oktober 22, 2008

Hukum Rokok

Diarsipkan di bawah: Manhaj — ibnuyacob @ 8:24 am
  Cetak halaman ini dalam bentuk PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini kepada rekan Anda via E-mail
  
 

Dalam literatur fiqih Islam klasik, masalah rokok tidak pernah ditulis. Kemungkinan besar karena rokok di zaman itu belum lagi dikenal. 

rokok
 Baru pada beberapa abad yang lalu peradaban manusia mengenal rokok. As-Syeikh Ali Thanthawi mengatakan bahwa rokok di negerinya baru dikenal 1.000-an tahun yang lalu.

Itu pun belum lagi diketahui sejauh mana bahayanya pada kesehatan. Karena itu bila kita mengacu pada literatur klasik, tidak kita temukan pernyataan mereka tentang rokok.

Sedangkan para ulama masa kini, di antaranya para ulama di Saudi, Yaman dan Mesir dan negeri lainnya di Timur Tengah, banyak berbicara tentang bahaya rokok serta melarang umat Islam mengkonsumsinya karena alasan-alasan yang sangat nyata. Maka bila kita menelaah fatwa ulama masa kini dalam masalah rokok, hampir seluruhnya melarang.

Jadi bila ada sementara tokoh agama, kiyai, ulama atau ustadz yang masih tetap merokok, besar kemungkinan beliau belum lagi menelaah fatwa para ulama masa kini tentang bahaya rokok. Atau belum mendapatkan informasi yang akurat berkaitan dengan bahaya rokok tersebut.

Maka memang masih ada sementara kalangan yang membolehkannya atau sekedar memakruhkannya dan tidak sampai mengharamkannya.

a. Yang Mengatakan Makruh

Banyak kalangan ulama di negeri kita yang masih saja asyik merokok, hal itu lantaran dalam kitab fiqih mereka tidak pernah tercantum bab tentang rokok, kecuali sekedar benda yang mengakibatkan mulut berbau tidak sedap.

Oleh karena itu hukumnya dalam alam pikiran mereka sekedar makruh saja, tidak pernah sampai haram. Karena ilmu pengetahuan penulis kitab fiqih di masa lalu baru sampai ke tingkat itu, tidak lebih.

b. Yang Mengatakan Haram

Berbeda dengan ulama di zaman sekarang, yang hidup di era kemajuan. Begitu banyak informasi yang baru terkuak di zaman ini, sementara 100-an tahun yang lalu orang masih buta tentang hakikatnya.

Informasi yang paling akurat dan sangat terpercaya dari dunia kesehatan telah dengan aklamasi mengatakan bahwa tidak pernah ada batas aman untuk merokok. Sebab dalam sebatang rokok terdapat 200-an jenis racun yang paling berbahaya bagi manusia.

Kalau racun-racun itu dikonsumsi terus menerus, maka nyaris hampir semua penyakit akrab dengan tubuh seseorang. Selain itu juga ada fakta-fakta yang tidak mungkin dipungkiri lagi:

  • Reomendasi WHO, 10/10/1983 menyebutkan seandainya 2/3 dari yang dibelanjakan dunia untuk membeli rokok digunakan untuk kepentingan kesehatan, niscaya bisa memenuhi kesehatan asasi manusia di muka bumi.
  • WHO juga menyebutkan bahwa di Amerika, sekitar 346 ribu orang meninggal tiap tahun dikarenakan rokok.
  • 90% dari 660 orang yang terkena penyakit kanker di salah satu rumah sakit Sanghai Cina adalah disebabkan rokok.
  • Prosentase kematian disebabkan rokok adalah lebih tinggi dibandingkan karena perang dan kecelakaan lalulintas.
  • 20 batang rokok perhari menyebabkan berkurangnya 15% haemoglobin, yakni zat asasi pembentuk darah merah.
  • Posentase kematian orang yang berusia 46 tahun atau lebih adalah 25% lebih bagi perokok.

Maka wajar bila para ulama di masa sekarang ni yang hidup dengan semua sumber informasi umumnya mengharamkan rokok. Meski tidak terdapat nash sharih yang mengharamkannya, namun kriteria rokok sebagai racun yang haram dimakan telah dengan tegas di dalam quran dan sunnah.

Mereka yang mengharamkan rokok, berangkat dari dalil umum tentang haramnya seseorang menceburkan diri ke dalam kehancuran. Misalnya firman Allah SWT:

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Baqarah: 195)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisa’: 29)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Oktober 19, 2008

Precious Pearls on The Etiquette of Da’wah

Diarsipkan di bawah: Manhaj — ibnuyacob @ 1:36 pm

A translation of a classical treatise on Da’wah by one of the leading Islamic scholars
and Mujaahids of the twentieth Century from Constantine, Algeria.

Annotated Translation by
Dr. Abu Ameenah Bilal Philips

PART I

The Path to Happiness and Success

“Say: This is my way, I invite to Allaah with certain knowledge, I and whoever follows me. Allaah is glorified and I am not among the pagans.” (12:108)

Introduction

Allaah created Muhammad (saw) as the most perfect of humankind, made him humanity’s example, and made following him obligatory. Humanity cannot escape destruction, achieve happiness in this world or the afterlife, or attain their Creator’s forgiveness and pleasure, except by following his footsteps and traveling his path.

As a result, Allaah commanded His Prophet (saw) to make his path clear to people, so that the Right Way will be apparent to those who are guided and the evidence will presented to those destroyed. He commanded him to make it crystal clear, such that it can be transformed into a scene visible to the eyes, which can be pointed out, in the same way other (physical) scenes are. He said to him:

“Say: This is my way…” Then He clarified his path by three characteristics:

  1. The call to Allaah with certain knowledge.
  2. The glorification of Allaah, Most High.
  3. The disavowal of the idolaters.

Then he said: “I invite to Allaah with certain knowledge, I and whoever follows me. And Allaah is glorified and I am not among the pagans.”

The Call to Allaah Continual Da’wah
From the day Allaah chose the Prophet for the mission (of spreading Islaam) until the last moment of his life, he called all the people to Allaah through his speech, deeds, and approvals, and did so in all situations and gatherings. His da’wah (call of Allaah), in all its forms, was clear and apparent, having no obscurity, as he said:

“By Allaah, I have left you on what is like a clear plain, the day and night of which are equal.” [1]

And it was visible to the eyes, as was indicated in the verse.

He called to the Allaah’s religion, explained it, and exemplified it. He invited people to worship Allaah alone, maintain His unique unity (Tawheed), and obey Him. People used to witness this worship, Tawheed, and obedience within the Prophet (saw) as he was himself a complete invitation to Allaah.

He did not call others to himself. Instead, he died and his armor was held in lieu of a debt. [2]

Furthermore, he did not call to his people, instead, he said:
“A black person has no superiority over a white person, nor a white over a black, except by taqwaa [3] of Allaah.[4]

The Comprehensive Mission

The Prophet (saw) used to call all the people, as he was the Messenger of Allaah to all humankind. Thus, he would write letters and send messengers, in order for his message to reach the various nations and their rulers.

He used to call the disbelievers as well as the believers. He would call the former to enter Allaah’s religion and call the latter to establish Allaah’s religion. He did not stop, not even for a day, warning and giving glad tidings, preaching and reminding.

Da’wah with Knowledge

The Messenger of Allaah (saw) used to invite to Allaah based on clear evidences and proofs, thus enabling the minds to completely grasp the message, such that the matter would become as clear as something visible to the eyes. He had knowledge and certainty about everything he said and did and in every aspect of his da’wah to Allaah. He maintained this knowledge and certainty throughout his life and in all circumstances.

Thus, his clear invitation was based on evidences and contained only the truth. He used the intellect as confirmation (of the truth) and supported it with knowledge. He also used emotions to aid his call. Furthermore, he would use as proof Allaah’s retribution of the previous nations, stories about them that have been handed down, as well as the remains of the earlier civilizations, which people pass by at night.[5]

Every Muslim Must Invite to Allaah

Muslims are Missionaries/Propagators
Having explained that calling others to Allaah was the path of Prophet Muhammad (saw) who was the example and best model for his followers, this then indicates that the path of his followers should be that of inviting people to Allaah. However, in order to emphasize this matter to his followers, and to clarify the fact that following him necessitates this and is incomplete without it, it was clearly stated as follows:

“I invite to Allaah with certain knowledge, I and whoever follows me.”

Thus, Muslims as individuals and groups are obliged to invite to Allaah. Furthermore, their invitation should be based on clarity, evidence, belief, and certainty, and should be according to and following his example.

What is the Invitation Composed of?

What Constitutes the Invitation?

The following are among the components of the invitation to Allaah:

1. A study of all the fields of Islaamic knowledge that make the caller knowledgeable about Allaah’s religion, make him aware of Allaah’s greatness, signs, and power, and point to Allaah’s mercy and His various types of blessings. Thus, the legist (faqeeh) who clarifies Allaah’s rulings and His wisdom (behind the rulings) is an inviter to Allaah, and the surgeon who explains the details of an organ and is a benefit to people is an inviter to Allaah. Like them is everyone who clarifies matters in any field of knowledge or work.

2. Clarifying the evidences of Islaam, removing doubts about it, and spreading information about its merits to those unfamiliar with it, in order for them to enter it. [And to also do so] among those whose faith has been shaken among Muslims, in order for them to become firm in it.

3. Gatherings of admonition and remembrance of Allaah[6] to inform Muslims about their religion, and educate them regarding Islaamic beliefs, character, and deeds, according to what the Prophet (saw) brought. Furthermore, in these admonitions, [the daa'ee] should endear all of this to them by explaining the goodness and happiness in it for them. He should also warn them about the innovations which have entered into the religion and which are the causes of all sufferings and evils that befall them. He should explain that there is nothing that will bring happiness to humankind, individuals and nations, except that the Prophet (saw) clarified it for them and invited them to it. And there is nothing that will bring misery to humankind, individuals and nations, except that he clarified it for them and prohibited them from it. [7]

One must also clarify the fact that, were it not for the Prophet’s creed which is rooted in [his ummah[8] ], its remnants that still remain with them, and its external effects upon them, and nothing would have remained of them, for they are in fact powerless. And even the relics of their ancestor would have disappeared among the living nations.

4. Commanding goodness and prohibiting evil, which is an individual responsibility (fard ‘ayn) on every male and female Muslim without exception. The obligation varies according to the level of ability: it is obligatory with the hand, and if unable with the tongue (by speech), and if unable with the heart, which is the weakest form of faith and the minimum form of deeds. [9]

5. The appearance of Muslim individuals and groups implementing the decency, virtues, goodness, mercy, knowledge, righteous actions, truthfulness, and trustworthiness taught by their religion. For this is one of the greatest incentives causing non-Muslims to embrace Islaam. Similarly, its opposite is one of the greatest deterrents from Islaam, preventing them from accepting it. Furthermore, Islaam initially spread among the various nations only as a result of its propagators calling others by their actions as well as their statements. The fact remains that actions are the assessments of statements.

6. Sending out delegations to non-Muslim nations, publishing books in their languages, and sending propagators to the capitals of Muslim nations to guide and educate the people regarding the religion.

All of this is a part of the call to Allaah, and its foundations are established in the Sunnah of the Prophet (saw) the righteous predecessors, and those after them.

It is obligatory for each Muslim to do as much calling to Allaah that he or she is able in every one of its ways. He should know that calling to Allaah with clarity is the way of his prophet, as well as his brothers among the previous prophets – may Allaah’s peace be upon them all.

It is not befitting that a Muslim abandon any part of this noble position – the position of successors of the Prophet (saw). Since this position is established for every male and female Muslim, and since the responsibility of undertaking it, according to ability, is an obligation on every male and female Muslim, then the people of knowledge are even more obliged and responsible. They are the ones in charge of it before all other people.

The problems that have afflicted Muslims only took place when the people of knowledge retired from this obligation that was on them. If they return to fulfilling it, and they have, al-hamdu lillaah, then the afflictions on Muslims will soon be removed from them.


……………………………………………………………………………………………………………
1.Collected by Ibn Maajah, and authenticated in Saheeh Sunan Ibn Maajah, vol. 1, pp. 18-9, no. 5.
2.Narrated by ‘Aa’ishah and collected in Sahih Al-Bukhari, vol. 4, p. 106, no. 165.
3.Taqwaa is commonly translated as piety, God-consciousness, or fear of Allaah. More specifically, it is to do acts of obedience, desiring Allaah’s reward, and leave disobedience of Allaah from fear of His punishment.
4.Musnad Ahmad, vol. 5, p. 411, with an authentic chain of narration, according to Shaykh ‘Alee Hasan. Al-Hadeeth ash-Shareef CD, no. 22391.
5.As mentioned in Soorah as-Saaffaat, 37:136-8.

6.Such as lectures, etc.
Al-Muttalib ibn Hantab reported that Allaah’s Messenger said:
“I didn’t leave anything which Allaah commanded you without commanding you to do it. Nor did I leave anything which Allaah prohibited you except that I prohibited you from it.” (Collected by Ash-Shaafi’ee in al-Umm, vol. 7, p. 299 and al-Bayhaqee in his Sunan, vol. 7, p. 71 with an authentic chain).
8.Nation, followers.
9.Aboo Sa’eed al-Khudree reported that he heard Allaah’s Messenger say,
“Whoever sees evil should change it with his hand. If he is unable, let him change it with his tongue. If he is (still) unable, let him do so in his heart, and that is the weakest (level) of faith.” (Sahih Muslim, vol. 1, p. 33, no. 79)

A Guide to Da’wah

Diarsipkan di bawah: Manhaj — ibnuyacob @ 1:25 pm

by Dr. Abu Ameenah Bilal Philips


“Successful Da’wah requires that the basic conditions for Da’wah be fulfilled. The caller (Daa’ee) must be adorned with the characteristics of the Prophet (pbuh) in this regard. The call (Da’wah) must also be to the correct goal and following the correct methodology. And finally the conditions of those who are called must be taken into consideration for the Da’wah to effectively reach them. This column of the Da’wah times addresses these three pillars of Da’wah in order to prepare those considering taking on this sacred duty properly.”

INTRODUCTION TO DA’WAH

The Arabic term da’wah is derived from the verb da’aa which means “to call; to invite; and to supplicate, i.e. to call on God”. It is used to refer to the act of conveying or calling people to the message of Islaam. In that context it is a contraction of the phase ad-da’wah ilallaah (calling to Allaah).

“Say: This is my way and I invite to Allaah with certain knowledge …” (12: 108)

Virtues of Da’wah
Da’wah was the basic mission of the prophets of God. They were raised up among their respective people to call them to the worship of Allaah alone and to abandon the worship of the various false gods that they had invented.

“I have sent to every nation a messenger [proclaiming:] Worship Allaah and avoid the [worship of] false gods.”, (16: 36)

There are numerous verses in the Qur’aan which describe how the former prophets invited their people to Allaah. These stories serve as examples to the last Prophet (saw) and his followers. Furthermore, there are a number of other verses in which Allaah specifically exhorts the Prophet (saw) to convey the message of Islaam to people.

“Call to your Lord and do not be among the pagans.” (28: 87)

Consequently, Allaah praises those who engage in this noble endeavor as being the best in speech.

“Who is better in speech than one who calls to Allaah, does righteous deeds and says indeed I am among the Muslims.”, (41: 33)

The best words that any human being can speak are words of guidance inviting people to the purpose of their creation; the worship of God. This being the case, the reward for giving da’wah must be tremendous. Thus, it is no surprise to find that the Prophet (saw) addressed the great reward for this righteous pursuit saying, “Whoever directs someone to do good will gain the same reward as the one who does good.[1]

He was also reported to have said, “Whoever calls to guidance will receive the same reward as the one who follows him without any decrease in the reward of [his follower].[2]

As a show of divine grace, Allaah has promised that every good deed would be rewarded tenfold and more.[3] According to the Prophet (saw), one who guides others to do good deeds gets a reward equivalent to their reward for doing good. Consequently, people guided to righteousness earn, throughout their lives, good deeds for those who guided them. Such an immeasurable reward is specifically granted to those involved in the prophetic mission of da’wah.

As an illustration of the magnitude of the reward for guiding others to Islaam, the Prophet (saw) was also reported by Sahl ibn Sa’d as saying: “For Allaah to guide someone by your hand is better for you than having red camels.”[4] Camels were considered the most valuable property in ancient Arabia and the red variety was the most prized of all. Consequently, the Prophet (saw) here indicates that guiding others to the truth is worth more than our most prized possessions in this world. This fact is further reiterated in Chapter al-’Asr where Allaah declares humankind in a state of loss with the exception of “those who advise each other with truth.” [5]

Allaah also hinged the label of honor, “best of humankind,” granted to the Muslim nation on the fulfillment of their da’wah-duty of calling humankind to righteousness and prohibiting sin among them.

“You are the best nation raised up for humankind. You enjoin righteousness, forbid corruption and you believe in Allaah.” (2: 159)

Thus, the Muslim nation has been given the status of the best nation because of their belief in Allaah, their promotion of morality and their opposition to vice. If they fail to believe in Allaah by applying the Sharee’ah in their governments and promote vice by permitting ribaa based economies, the production of alcohol, and the spread of lewdness, they may sink below the worst of disbelieving nations. Consequently, Muslim nations top the list of the most corrupt nations on earth today.

……………………………………………………………………………………………………………

1 Sahih Muslim, vol. 3, p. 1050, no. 4665.
2 Sahih Muslim, vol. 4, p. 1406, no. 6470.
3 Soorah al-An’aam, 6: 160.
4 Sahih Al Bukhari, vol. 4, pp. 156-7, no. 253.
5 Soorah al-’Asr, 103: 3.

Oktober 16, 2008

‘Why doesn’t Allaah send Signs’

Diarsipkan di bawah: Manhaj — ibnuyacob @ 2:16 pm
Author: Number of Scholars
Topic: Tafseer
Reference: see footnotes 

And nothing stops Us from sending the Ayaat (proofs, evidences, signs) except that the people of old denied them. And We sent the she-camel to Thamood as a clear sign, but they did her wrong. [Al Israa: 59]

Allaah the Elevated mentions His mercy of not sending the miracles that the disbelievers request, that nothing prevents Him from sending them except the fear that they would not believe in them, for if they deny them, their punishment would be near, it would take them without delay, as was the case with the earlier generations who belied the miracles.Amongst the greatest of signs was the one revealed to the people of Thamood, it was a huge, magnificent camel which used to provide for the entire tribe. However they belied this miracle and the torment that Allaah related to us in His Book befell them.

These people likewise, if the greatest of signs were to be shown to them, they would not believe, because what is preventing them from believing is not the concealment of what the Messengers came with, nor is it that it is unclear, whether it is the truth or falsehood. There is indeed a lot of substantial evidence that necessitates the following of guidance for those who are looking for it. So revealing other signs [such as miracles] are similar to it, they would follow the same path regarding them as they did with the evidence, so refraining from sending miracles in this state of theirs is better and more beneficial for them.

Allaah explained elsewhere that there is no need for their request for miracles, because He revealed a miracle that is greater than any other miracle they requested, and that miracle is in this magnificent Qur-aan, it is His saying:

Is it not sufficient for them that We have sent down to you the Book (the Qur-aan) which is recited to them [ Al ‘Ankaboot: 51]

So rebuking them for not being satisfied with this Book and not other miracles shows that it is greater and more magnificent than any other miracle. And it is so, do you not see that it is a clear sign, a magnificent miracle, all of mankind together cannot not produce the likes of it, and it remains, being repeated to be heard by the creation until the hour is established, unlike other miracles at the hands of other Messengers, may the Salaat and Salaam be upon all of them, those miracles have all come to an end.Sa’eed ibn Jubayr said:

“The polytheists said: ‘O Muhammad, you claim that there were Messengers before you, amongst them was one who could control the wind, one who would bring life to the dead, so if you would like us to believe in you and have faith, then invoke your Lord to turn Mount Safaa into gold.’ So Allaah revealed to him: ‘I have heard what they said, if you like that We make true what they requested it shall be so, but if they do not believe [after that], then the punishment would descend upon them, for indeed there is no dispute after the revelation of miracles, and if you wish that we wait with your people, then We shall wait with them.”

The Messenger then said: ‘My Lord, wait with them.’

Al Imaam Ahmad narrated with his Isnaad that ibn ‘Abbaas said:

The people of Quraysh said to the Prophet – صلى الله عليه وسلم -: ‘Invoke your Lord to turn Mount Safaa into gold and we shall believe in you.’ He replied: ‘Would you really believe?’

They said: ‘Yes’

So he invoked his Lord and Gibreel came and said: ‘Your Lord extends the Salaam to you and says: ‘If you wish, mount Safaa would turn to gold for them, but whoever disbelieves after that, I will torment him like I have not tormented anyone from Mankind and Jinn, and if you wish I shall open for them the door of repentance and mercy.’

He responded: ‘Rather the door of mercy and repentance.

Compiled from the following books of Tafseer:Adwaa al Bayaan
Tafseer as Sa’dee and
Tafseer ibn Katheer

I worshiped Allaah for fifty years

Diarsipkan di bawah: Manhaj — ibnuyacob @ 2:12 pm
Author: Al Haafidh adh Dhahabee
Topic: Treasures
Reference: Siyar ‘Alaam an Nubalaa - 
Nasr ibn Mahmood al Balkhee said; Ahmad ibn Harb stated:

“I worshiped Allaah for fifty years, I wasn’t able to find the sweetness of worship until I forsook three things:

1. I forsook seeking the acceptance of people, so I was able to speak the truth.

2. I forsook the companionship of the sinner, so I was able to accompany the righteous.

3. I forsook the sweetness of the life of this world, so I was able to find the sweetness of the afterlife.

Biografi Of Al Imaam Al Haafidh adh Dhahabee

Diarsipkan di bawah: Manhaj — ibnuyacob @ 2:03 pm

الحافظ الذهبي
Full Name: Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Uthmaan ibn Qaymaaz ibn ‘Abdullaah adh Dhahabee at Tarkamaanee al Faaraqee ad Damashqee ash Shaafi’ee.Kunya: Abu ‘Abdullaah.

Born: 637 H | 1239 C.E.

Died: 748 H. | 1347 C.E.

He grew up in a well off, knowledgeable, religious family, which aided him in gaining knowledge at a young age.

His father was Shihaab ad Deen Ahmad ibn ‘Uthmaan, he studied knowledge, including Saheeh al Bukhaaree under al Miqdaad al Qaysee. Adh Dhahabee included him amongst his scholars.

He also benefited from his paternal aunt, Sitt al Ahl bint ‘Uthmaan ibn Qaymaaz, she was also his mother through breast feeding. She was given an Ijaazah by Ibn Abee al Yaseer, Jamaal ad Deen ibn Maalik, Zuhayr ibn ‘Umar ibn az Zuraa’ee and others. She studied under ‘Umar ibn al Qawwaas and others. Adh Dhahabee narrated on her authority, she passed away 729 H.

As far as his mother’s side, she was the daughter of Abu Bakr Sanjar ibn ‘Abullaah al Mawsoolee, he was also amongst his teachers.

As far as the knowledge of Hadeeth, he gained the lions share, he devoted his attention to it to the point that it became his main concern during his life. He studied hundreds of books in Hadeeth, a glimpse at ‘al Mu’jam al Kabeer’ will give you a clear idea of his expansive readings and studies in this science, let alone the fruits of all this, the high status that he reached amongst the greatest scholars of the science.

In addition to his knowledge of Hadeeth and Qira-aat, adh Dhahabee did not neglect the knowledge of the Arabic language, Adab, history, rather he studied them. His studies were reflected in the books he authored demonstrating his expansive knowledge in different sciences.

He travelled to Egypt and Palestine and benefited from the major scholars there, he also performed Hajj and studied in Makkah, ‘Arafah, Mina and al Madeenah from a number of scholars, amongst other places.

He reached the status of Imaam in a number of fields, he is an Imaam in the knowledge of Qira-aat, an Imaam in the knowledge of Hadeeth and an Imaam in History.

Ibn Naasir ad Deen stated: “He was an Imaam in the knowledge of Qira-aat.”

Ibn al jazaree stated: “The teacher, the trustworthy, the great one.”

Ibn Hajar stated: “He interested people in his works, they traveled to him because of them and they accepted them, reading, studying and transcribing them.”

Salaah ad Deen as Safdee stated: “Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Uthmaan ibn Qaymaaz, the Imaam, the scholar, the ‘Allaamah, al Haafidh, Abu ‘Abdullaah adh Dhahabee, there is no equal to him, He mastered the knowledge of Hadeeth and chains of narrators, the defects of the chains and their states, he attained knowledge of the biographies of the narrators, he removed the confusion and uncertainty of their histories, with a mind that glows with intellect. His attribution to gold is truthful. He gathered a great deal, he benefitted a vast amount of people, he authored a great number of books and spared, by summarizing, the burden of length in his writings.”

As Suyootee stated: “The Muhadithoon of today are dependant concerning the knowledge of narrators or other sciences of Hadeeth upon four: Al Mizee, adh Dahahabee, al ‘Iraqaaqee and ibn Hajar.”

At Taaj as Sabkee stated: “As for Abu ‘Abdullaah, he is a treasure which has no equal, he if the reference point during calamities, the Imaam of memory, he is the gold of this time period, in meaning and actuality, the scholar of Jarh wa Ta’deel…a great number studied under him, he continued to serve the science of Hadeeth until his feet became well grounded in it. The night and day have tired, but his tongue and pen have not tired, his name became as his laqab ‘the sun’ except that he is not covered during the rain and does not disappear during the night. He lived in Damascus and people travel to him and questions reach him from all corners of the world.”

Amongst his teachers:

As Safdee stated he had more than 1300 teachers. Adh Dhahabee was keen on compiling a list of the names of his teachers, so he authored ‘al Mu’jam al Kabeer’, ‘al Awsat’ and ‘as Sagheer’.

He was blessed to accompany three renowned scholars of his time, scholars whose reputations have spread across the horizons.

  • Shaykhul Islaam ibn Taymiyyah.
  • Al Haafidh al Mizzee.
  • Al Haafidh al Barzaalee.
  • Adh Dhahabee was the youngest amongst them and al Mizzee was the oldest, they used to study under each other, so they were peers and teachers to each other. They gathered because of the adherence to the creed of the Salaf, their eagerness to learn and propagate and defend it, their love for the knowledge of Hadeeth and occupying themselves with adhering to the Athaar of the righteous predecessors. This friendship had a strong effect of adh Dhahabee’s personality and the build up of his knowledge which is apparent in his books.

    Amongst his students:

    Hundreds of students studied under him, al Husaynee stated; ‘The Book, the Sunnah and mannerisms were learnt through him.’

    As Sabkee stated: ‘An enormous number of students studied under him.’

    Amongst the books he authored:

    He authored more than 215 books, amongst them:

  • Al ‘Uloo lil ‘Alee al Ghaffaar.
  • The Throne.
  • Forty Ahaadeeth.
  • Al Muntaqaa.
  • The Major Sins.
  • Al Imaamah al ‘Udhmah.
  • Ahaadeeth on the Names and Attributes.
  • Juz min ash Shafaa’ah.
  • The Description of the Fire.
  • The Issue of Backbiting.
  • Seeing the Creator.
  • Death and what comes after It.
  • The Chains of the Hadeeth of the Descent.
  • The Chains of the Hadeeth of the Voice.
  • The Issue of the permanence of the Fire.
  • Adhering to the Sunan.
  • The Summary of the Book of Zuhd.
  • The Summary of the Book of Devine Decree.
  • The Summary of the Book of Resurrection.
  • The Fright and Terror of the Remaining of Ad Dajjaal.
  • The Summary of the Rebuttal of Ibn Taahir.
  • Tashbeeh al Khasees bi Ahl al Khamees.
  • Seeyar ‘Alaam an Nubalaa.
  • Meezaan al ‘Itidaal.
  • The History of Islaam.
  • Reminders.
  • The Countries of Islaam.
  • Tadhkirat al Huffaadh.
  • Al Kaashif.
  • Al Muwqidhah.
  • Oktober 14, 2008

    WHY WE CHOOSE ONLY MANHAJ SALAFI

    Diarsipkan di bawah: Manhaj — ibnuyacob @ 3:58 pm

    Limadza Ikhtartu Al-manhaj As-salafy

    MENGAPA HANYA MEMILIH MANHAJ SALAFI SAJA

    Oleh: Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly

    Sangat banyak dalil-dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta perkataan para sahabat yang menjelaskan akan pujian terhadap orang yang mengikuti jalan As-Salaf dan celaan terhadap orang yang tidak melakukan hal demikian. Dan ini merupakan perkara-perkara yang menguatkan kewajiban mengikuti manhaj Salaf serta menegaskan bahwa dia merupakan jalan keselamatan dan kebahagian hidup. Di sini kami melemparkan beberapa belas anak panah kepada orang yang ragu lagi bimbang untuk membentangkan jalan kaum mukminin dari pohon keyakinan sehinnga memetik manisnya iman dari atas pohon yang subur dan berteduh dibawah kerindangannya dalam buaian dan wanginya.

    Pertama
    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    “Artinya : Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [At-Taubah : 100]

    Sisi pendalilannya adalah, Rabb sekalian manusia telah memuji orang yang mengikuti sebaik-baik manusia maka jelaslah bahwa mereka (Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar ) jika mengatakan satu perkataan lalu diikuti oleh orang yang mengikutinya maka haruslah hal itu merupakan hal yang terpuji dan berhak mendapatkan keridhaan, dan seandainya mengikuti mereka tidak memiliki keistimewaan dari selain mereka maka dia tidak berhak mendapatkan pujian dan keridhoan.

    Kedua
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
    “Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” [Ali Imran :110]
    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan keutamaan atas sekalian umat-umat yang ada dan hal ini menunjukkan keistiqomahan mereka dalam setiap keadaan ; karena mereka tidak menyimpang dari syari’at yang terang benderang, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mempersaksikan bahwa mereka memerintahkan setiap kemakrufan (kebaikan) dan mencegah setiap kemungkaran, hal itu menunjukkan dengan pasti bahwa pemahaman mereka adalah hujjah atas orang yang setelah mereka sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mewarisi bumi dan seisinya.

    Jika ditanya : Ini umum pada umat Islam seluruhnya tidak khusus untuk generasi sahabat saja.

    Saya jawab : Bahwa merekalah orang yang pertama yang menjadi obyek penderita, dan tidak masuk dalam konteks ini orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik kecuali dengan kias (analogi) atau dengan dalil sebagaimana dalil pertama. Dan seandainya konteksnya umum -inipun benar- maka para sahabat adalah yang pertama masuk dalam keumuman konteks ayat, karena mereka orang pertama yang menerima dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perantara (langsung) sedang mereka adalah orang-orang yang langsung berkenaan dengan wahyu, sehingga mereka lebih pantas dimasukkan dalam konteks ayat daripada selainnya karena sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai sifat mereka tidak memiliki sifat -sifat tersebut dengan sempurna kecuali mereka. Dan kesesuaian sifat terhadap kondisi yang nyata merupakan bukti bahwa mereka lebih pantas dari selainnya untuk dipuji. Hal itu dijelaskan oleh :

    Ketiga
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    “Artinya : Sabik-baiknya manusia adalah generasiku [1] kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi, kemudian datang satu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya” [Mutawatir, sebagaimana telah ditegaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah 1/12 dan Al-Muanawiy dalam Faidhul Qadir 3/478 serta disetujui oleh Al-Kataaniy dalam kitab Nadzmul Mutanatsir hal.127]
    Apakah keutamaan yang ditetapkan kepada generasi sahabat ini ada pada warna kulit atau bentuk tubuh atau harta mereka … dst ?

    Tidak akan ragu bagi orang berakal yang telah memahami Al-Kitab dan As-Sunnah bahwa bukan itu semua yang dimaksud ; karena tolak ukur keutamaan dalam Islam adalah ketakwaan hati dan amal shalih, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
    “Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kami di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu” [Al-Hujuraat : 13]

    Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    “Artinya : Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat kepada bentuk kalian dan harta kalian akan tetapi melihat kepada hati-hati kalian dan amalan kalian” [Hadits Shahih Riwayat Muslim 16/121 -Nawawiy]

    Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melihat kepada hati-hati para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendapatkannya sebagai sebaik-baik hati diantara para hamba setelah hati Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian Allah memberikan kepahaman yang tidak didapatkan oleh orang-orang yang menyusul mereka, oleh karena itu apa yang para sahabat pandang sebagai kebaikan maka dia adalah kebaikan di sisi Allah Subahanahu wa Ta’ala dan apa yang mereka pandang sebagai kejelekan maka dia adalah kejelekan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Abdullah bin Mas’ud berkata : Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melihat kepada hati-hati para hambaNya dan mendapatkan hati Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebaik-baik hati para hamba lalu memilihnya untuk dirinya dan diutus sebagai pembawa risalahNya, kemudian melihat kepada hati-hati para hamba setelah hati Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendapatkan hati-hati para sahabat beliau sebaik-baik para hamba lalu menjadikan mereka sebagai pembantu NabiNya, mereka berperang di atas agamaNya, maka apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin maka dia baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa yang mereka pandang kejelekan maka dia adalah kejelekan di sisi Allah Subahanhu wa Ta’ala. [2]

    Dari Abu Juhaifah, beliau berkata.
    “Artinya : Saya telah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib : ‘Apakah kalian memiliki kitab ? Beliau menjawab : ‘Tidak kecuali Kitabullah atau pemahaman yang diberikan kepada seorang muslim atau apa yang ada di lembaran ini[3]. Saya bertanya lagi : Apa yang ada di lembaran tersebut ? Beliau menjawab ; Diyat, pembebasan tawanan dan (pernyataan) bahwa seorang muslim tidak di bunuh dengan sebab orang kafir” [Hadits Shahih Riwayat Bukhari 1/204 - Al-Fath]
    Dengan demikian maka pemahaman para sahabat terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah merupakan hujjah atas orang yang setelahnya sampai akhir umat ini, oleh karena itu mereka menjadi saksi Allah Subhanahu wa Ta’ala dipermukaan bumi ini, hal ini dijelaskan berikut.

    Keempat
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
    “Artinya : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” [Al-Baqarah : 143]
    Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan mereka umat pilihan dan umat yang adil karena mereka adalah umat yang paling utama dan paling adil dalam perkataan, perbuatan dan kehendaknya, sehingga mereka berhak menjadi para saksi atas manusia dan dengan demikian Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji mereka, mengangkat nama mereka dan menerima mereka dengan baik. Dan saksi yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang bersaksi dengan ilmu dan kebenaran sehingga mengkhabarkan kebenaran yang berdasarkan ilmunya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)” [Az-Zukhruf : 86]
    Apabila persaksian mereka diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala maka tidak diragukan lagi bahwa pemahaman mereka dalam agama merupakan hujjah atas orang yang setelah mereka, karena ayat ini telah menjelaskan penunjukkan tersebut secara mutlak dan umat Islam tidak memutlakkan sifat adil pada satu generasi kecuali kepada generasi sahabat, karena Ahlus Sunnah wal Jama’ah memberikan sifat adil pada mereka secara mutlak dan menyeluruh sehingga mereka mengambil dari sahabat secara riwayat dan ilmu seluruhnya tanpa kecuali. Berbeda dengan selain sahabat, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak memberikan sifat adil ini kepada mereka kecuali yang telah diakui keimanan dan keadilannya. Kedua hal ini tidak diberikan kepada seseorang kecuali jika dia berjalan di atas jejak para sahabat.

    Maka jelaslah dengan demikian bahwa pemahaman para sahabat merupakan hujjah atas selainnya dalam pengarahan nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah oleh karena itu diperintahkan untuk mengikuti jalan mereka, hal ini dijelaskan dalam.

    Kelima
    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    “Artinya : Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku” [Luqman : 15]
    Setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka hidayah (petunjuk) untuk mendapatkan perkataan yang baik dan amalan shalih dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    “Artinya : Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira ; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” [Az-Zumar : 17-18]
    Maka wajib mengikuti jalan mereka dalam memahami agama Allah baik Al-Qur’an ataupun As-Sunnah, oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’a mengancam orang yang tidak mengikuti jalan mereka dengan neraka jahannam seburuk-buruknya tempat kembali, hal ini dijelaskan.

    ——————————————————————————–

    Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi

    ——————————————————————————–

    Foote Note.
    1. Tertulis dalam banyak buku hadits ini degan lafadz : “Sebaik-baiknya generasi”. Saya mengatakan bahwa lafadz-lafadz ini lemah dan yang benar apa yang telah saya tulis ini.

    2. Dikeluarkan oleh Ahmad I/379, Ath-Thoyalisiiy dalam musnadnya hal.23 dan Al-Khotib Al-Baghdadiy dalam Al-faqih wal Mutafaqqih I/166 secara mauquf dengan sanad yang hasan. Kata-kata terakhir dari atsar ini telah masyhur sebagai hadits marfu’ dan itu tidak benar sebagaimana telah dijelaskan para imam dan itu hanyalah dari perkataan Ibnu Mas’ud, sebagaimana telah saya jelaskan dalam kitab Al-Bid’ah wa Atsaruha fil Umat, hal.21-22 silahkan dilihat.

    3. Ini adalah nash yang cukup tegas dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib menghancurkan kebatilan syiah rafidhah yang menisbatkan diri mereka kepada keluarga Nabi (ahlil bait) secara dzolim dan menipu ketika mengaku-ngaku bahwa ahlil bait memiliki kitab yang berukuran tiga lipat dari Al-Qur’an yang berada di tangan kita yang mereka namakan Mushaf Fatimah. Lihat Bughyatul Murtaab karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal.321-322

    Halaman Berikutnya »

    Blog pada WordPress.com.